masukkan script iklan disini
Medan Media Sadaon my id
Kloter demi kloter terus bergerak. Dari sejak jemaah pertama masuk Asrama Haji Medan pada 21 April 2026 hingga pemberangkatan Kloter 5 pada 26 April 2026, satu hal menjadi perhatian publik: apakah penyelenggaraan haji tahun ini benar-benar dijaga dengan kesungguhan, atau hanya akan kembali menjadi rutinitas tahunan yang sibuk di awal lalu longgar di tengah jalan.
Sampai hari ini, memang tampaknya Zulkifli Sitorus masih menunjukkan langkah yang meyakinkan.
Sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Utara sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan, ia tidak hanya hadir dalam seremoni pelepasan, tetapi masuk ke ruang paling penting: memastikan pelayanan berjalan dengan disiplin, detail, dan rasa tanggung jawab.
Dari Kloter 1 hingga Kloter 5, pelayanan embarkasi relatif berjalan baik. Penerimaan jemaah di Asrama Haji Pangkalan Mansyur tertib, distribusi dokumen perjalanan lancar, kartu Nusuk sudah aktif sejak di asrama, pelayanan kesehatan terjaga, hingga keberangkatan melalui Bandara Kualanamu semakin manusiawi karena jemaah diberangkatkan melalui terminal internasional menggunakan garbarata, bukan lagi melalui jalur cargo.
Ketika Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, bersama Komisi VIII DPR RI meninjau langsung pelepasan Kloter 2 dan memberi apresiasi atas kualitas pelayanan, publik membaca satu pesan penting: Embarkasi Medan sedang berada di jalur yang benar.
Tetapi publik ingin mengingatkan, Pak Zulkifli—jalan ini masih panjang.
Pujian pada lima kloter awal bukan garis akhir. Justru di situlah jebakan terbesar sering dimulai: rasa aman yang datang terlalu cepat.
Karena itu, ketika Zulkifli berdiri di Aula Hotel Madinah Al Munawwarah Asrama Haji Medan pada pemantapan petugas Kloter 5 dan berkata, “Jangan ada petugas yang makan sebelum seluruh jemaah makan, dan jangan ada petugas yang tidur sebelum seluruh jemaah beristirahat,” sesungguhnya Anda sedang mengucapkan janji moral yang jauh lebih besar daripada sekadar arahan operasional.
Kalimat itu kini menjadi ukuran publik terhadap Anda sendiri.
Sebab kepemimpinan bukan hanya soal memberi instruksi, tetapi memastikan instruksi itu hidup dalam tindakan sehari-hari. Jika petugas lengah, publik akan bertanya kepada pemimpinnya. Jika pelayanan menurun, nama yang pertama disebut bukan Karu atau Karom, melainkan Zulkifli Sitorus.
Dan lebih jauh lagi, nama Bobby Nasution ikut berada dalam ruang penilaian itu.
Masyarakat tidak membaca bagan birokrasi. Mereka hanya tahu satu hal: pelayanan haji di Sumatera Utara berhasil atau tidak. Jika berhasil, gubernur dipuji. Jika gagal, gubernur ikut dipersoalkan.
Itulah sebabnya publik masih mengawasi Anda.
Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk memastikan bahwa komitmen menjaga nama baik Sumatera Utara benar-benar dijalankan sampai kloter terakhir. Bahwa pelayanan kepada tamu Allah tidak boleh turun hanya karena pujian sudah datang terlalu awal.
Anda telah memulai dengan baik. Itu patut diapresiasi.
Namun sejarah tidak ditulis dari lima kloter pertama. Sejarah ditentukan oleh konsistensi sampai akhir.
Dan sampai hari itu tiba, Pak Zulkifli, publik masih mengawasi Anda—demi nama Bobby Nasution, dan demi kehormatan pelayanan haji Sumatera Utara.*( penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers)*... (((Masniari)))









_1.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar